Selasa, 04 Desember 2012

LAPORAN LENGKAP EKOLOGI LAUT


I.    PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Laut Indonesia memiliki luas lebih kurang 5,6 juta km2 dengan garis pantai I sepanjang 81.000 km, dengan potensi sumberdaya, terutama perikanan laut yang cukup besar, baik dari segi kuantitas maupun diversitasnya (Nontji, 1987).
Indonesia mempunyai perairan laut yang lebih luas dari pada daratan, oleh karena itu Indonesia di kenal sebagai negara maritim. Perairan laut Indonesia kaya akan berbagai biota laut baik flora maupun fauna. Demikian luas serta keragaman jasad– jasad hidup di dalam yang kesemuanya membentuk dinamika kehidupanuntuk dapat dimanfaatkan adalah lamun, dimana secara ekologis lamun mempunyai beberapa fungsi penting di daerah pesisir. Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal di seluruh dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme.
Oleh karena itu dilakukan praktik lapang dimana  Praktek lapang yang dilakukan di Pulau Barrang Lompo ini  mencakup beberapa point diantaranya pengukuran kerapatan padang lamun,pengukuran luas penutupan padang lamun, pengidentifikasian spesies lamun, identifikasi makrozoobentos dan perhitungan kelimpahan makrozoobentos yang berada di daerah padang lamun.

B.     Tujuan dan kegunaan
Praktik lapang ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis lamun,mengetahui jumlah kerapatan lamun,mengetahui berapa jumlah luas penutupan padang lamun,mengetahui organisme apa saja yang berasosiasi pada ekosistem padang lamun dan mengetahui hubungan antara kerapatan dan luas penutupan lamun terhadap kelimahan organisme yang berasosisasi pada daerah padang lamun. Adapun kegunaan diadakannya praktek lapang di pulau barrang lompo kota makassar yaitu agar mahasiswa mampu menghitung Presentase kerapatan dan luas penutupan pada ekosistem lamun dan dapat membedakan spesies lamun yang satu dan  lainnya.

C.     Ruang Lingkup
Ruang lingkup praktek lapang ini mencakup beberapa point diantaranya pengukuran kerapatan padang lamun,pengukuran luas penutupan padang lamun,pengidentifikasian spesies lamun,identifikasi makrozoobentos dan perhitungan kelimpahan makrozoobentos yang berada di daerah padang lamun
II.TINJAUAN PUSTAKA
A.     Defenisi Lamun
Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri untuk hidup terbenam di dalam laut (Dahuri, 2001). Tumbuhan ini mempunyai beberapa sifat yang memungkinkannya hidup di lingkungan laut yang mampu hidup di media air asin, mempunyai sistem perakaran yang kuat, mampu  berkembangbiak dengan baik dalam keadaan terbenam (Dahuri, 2001). Seperti halnya rumput di darat, lamun mempunyai tunas daun yang tegak dan memiliki tangkai . Berbeda dengan tumbuhan laut lainnya (alga), lamun memiliki bunga dan menghasilkan biji. Lamun juga mempunyai akar dan sistem internal untuk mengangkut gas dan zat – zat hara(Romimohtarto dan Juwana, 2001).
Lamun tumbuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan pantai yang dasarnya berupa lumpur, pasir, kerikil, dan patahan karang mati, dengan kedalaman hingga 4 meter.Padang lamun terbentuk di dasar laut yang masih ditembusi cahaya matahari yang cukup untuk pertumbuhannya (Nontji, 2002). Di seluruh dunia diperkirakan terdapat 22 jenis lamun. Di Indonesia ditemukan 12 jenis lamun dari 7 marga (Bengen, 2004)
Lamun ditempatkan pada Subclassis Monocotyledoneae, class Angiospermae. Dari 4 familia lamun yang diketahui, 2 familia dapat ditemukan di perairan Indonesia yaitu Hydrocharitaceae dan Potamogetonaceae (den Hartog, 1970). Familia Hydrocharitaceae ditemukan 6 jenis lamun yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Halophila decipiens, Halophila minor, dan Halophila soinulosa. Dari familia Potamogetonaceae terdapat 6 jenis yaitu Syringodium isoetifolium, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halodule uninervis, Halodule pinifolia, dan Thalassodendron ciliatum (den Hartog, 1970).

B.     Jenis – Jenis Lamun di Indonesi
Dari 4 familia lamun yang diketahui, 2 familia dapat ditemukan di perairan Indonesia yaitu Hydrocharitaceae dan Potamogetonaceae (den Hartog, 1970). Familia Hydrocharitaceae ditemukan 6 jenis lamun yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Halophila decipiens, Halophila minor, dan Halophila soinulosa. Dari familia Potamogetonaceae terdapat 6 jenis yaitu Syringodium isoetifolium, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halodule uninervis, Halodule pinifolia, dan Thalassodendron ciliatum
(den Hartog, 1970).
1.      Enhalus acoroides
Ujung daun membulat kadang-kadang terdapat serat-serat kecil yang menonjol pada waktu muda,tepi daun seluruhnya jelas, bentuk garis tepinya seperti melilit, tumbuh diperairan dangkal dengan substrat berpasir dan  berlumpur atau kadang-kadang diterumbu karang(Den Hartog 1970; Phillips & Menez 1988).
Gambar 1.Enhalus acoroides (Linneaus f.) Royle



Klasifikasi :

Kingdom: Plantae
  Divisi : Spermatophyta
              Class: Liliopsida
                       Order: Hydrocharitales
                                 Family: Hydrocharitaceae
                                             Genus: Enhalus
                                                                Spesies : Enhalus acoroides
2.Thalassia hemprichii
Daun berbentuk pita, terdapat sepuluh sampai tujuh belas tulang-tulang daun yang membujur, pada helaian daun terdapat ruji-ruji hitam yang pendek, ujung daunnya membulat, tidak terdapat ligula, tumbuh didaerah substrat berpasir dan berlumpur, dan kadang-kadang di terumbu karang(Den Hartog 1970; Phillips & Menez 1988).
Gambar 2.Thalassia hemprichii(Ehrenberg) Ascherson
Klasifikasi :

Kingdom: Plantae
        Divisi : Spermatophyta
                 Class: Liliopsida
                             Order : Alismatales
                                         Family: Hydrocharitaceae
                                                     Genus:Thalassia .
                                                               Spesies :Thalassia hemprichii


3.      Cymodocea serrulata
Daunnya berwarna ungu pada tumbuhan yang masih hidup, tepi daunnya tampak jelas. Memiliki rizhoma yang halus, tiap-tiap tunas terdiri dari  dua sampai lima  helaian daun, daunnya membentuk segitiga yang lebar, dan menyempit pada bagian pangkalnya(Den Hartog 1970; Phillips & Menez 1988).
Gambar 3.Cymodocea serrulata(R. Brown) Ascherson and Magnus
Klasifikasi :

Kingdom: Plantae
       Divisi : Spermatophyta
                Class   : Liliopsida
                            Order: Alismatales
                                        Family: Potamogetonaceae
                                                    Genus: Cymodocea
                                                                Spesies :Cymodocea serrulata

4.      Cymodocea rotundata
Helaian daunnya berkembang baik dan berwarna ungu muda, memiliki rizhoma yang halus dan bersifat herbaceous, tunas pendek dan tegak lurus pada setiap node, terdapat lingula, ujung daunnya licin (halus) membulat dan tumpul dan terkadang berbentuk seperti hati(Den Hartog 1970; Phillips & Menez 1988).
Gambar 4. Cymodocea rotundata (Erenberg and Hemprich ex Ascherson)
Klasifikassi :
Kingdom: Plantae
Division : Spermatophyta
            Class: Liliopsida  
Order   : Alismatales
Family      : Cymodoceaceae 
Genus : Cymodocea
Species : Cymodocea rotundata

5.      Syringodium isoetifolium
Daunnya berbentuk silindris, terdapat ligula.Rhizomanya tipis dan bersifat herbaceous, pada setiap node terdapat tunas tegak yang terdiri dari dua sampai tiga helai daun, daun-daunnya dengan mudah dikenali(Den Hartog 1970; Phillips & Menez 1988).
Gambar 5.syringodium isoetifolium (Ascherson) Dandy
Klasifikasi :

Kingdom: Plantae
    Division: Spermatophyta
Class        : Liliopsida
Order   : Alismatales
Family : Cymodoceaceae
Genus : Syringodium
Species: Syringodium isoetifolium


6.      Halodule uninervis
Bagian tengah tulang daun yang hitam biasanya mudah robek menjadi dua pada ujungnya Tulang daun tidak lebih dari tiga, daun selalu berakhir pada tiga titik, yang jelas pada ujung daun, ujung daun seperti trisula(Den Hartog 1970; Phillips & Menez 1988).
Gambar 6 .Halodule uninervis(Forsskal) Ascherson
Klasifikasi :

Kingdom: Plantae
       Division : Spermatophyta
                Class   : Liliopsida
                            Order   : Alismatales
                                        Family  : Cymodoceaceae
                                                 Genus     : Halodule
                                                                Species :Halodule uninervis

7.      Halodule pinifolia
Daunnya lurus dan tipis, tulang daunnya tidak lebih dari tiga, biasanya pada bagian tengah dari tulang-tulang daun mudah robek menjadi dua pada ujungnya, pada ujung daun terdapat tiga titik yang jelas(Den Hartog 1970; Phillips & Menez 1988).
Gambar 7.Halodule pinifolia (Miki) den Hartog
Klasifikasi :

Kingdom: Plantae
       Division : Spermatophyta
                Class   : Liliopsida 
                            Order   : Alismatales
                                        Family  : Cymodoceaceae
                                                    Genus  : Halodule
                                                                  Species :Halodule pinifolia
8.      Halophila ovalis
Bagian tepi daun halus, Seperti tanaman semanggi, daunnya memiliki sepasang tangkai, daunnya mempunyai 10-25 pasang tulang daun yang menyilang, rhizomanya tipis mudah dan halus, permulaan akarnya berkembang baik di pangkal pada setiap tunas(Den Hartog 1970; Phillips & Menez 1988).
Gambar 8.Halophila ovalis (R. Brown) Hooker f.
Klasifikasi :

Kingdom: Plantae
Division : Spermatophyta
Class   : Liliopsida
Order   : Alismatale
Family : Hydrocharitaceae
Genus : Halophila
Species :Halophila ovalis

9.      Halophila spinulosa
Daun berbentuk bulat panjang, setiap kumpulan daun terdiri dari 10-25 helaian daun yang saling berlawanan, tepi daun tajam, rhizomanya tipis dan kadang-kadang “berkayu”(Den Hartog 1970; Phillips & Menez 1988).
Gambar 9.Halophila spinulosa(R. Brown) Ascherson
Klasifikasi :

Kingdom: Plantae
Divisi   : Spermatophyta
Class   : Liliopsida
Order   : Alismatales 
Family : Hydrocharitaceae
Genus          : Halophila
Spesies:  Halophila spinulosa
10.    Halophila minor
Daun berbentuk bulat panjang seperti telur, daun memiliki empat sampai tujuh pasang tulang daun, pasangan daun dengan tegakan pendek, panjang daun  berkisar 0,5-1,5 cm.
Gambar 10.Halophila minor(Zollinger) den Hartog
Klasifikasi :

Kingdom : Plantae
Division : Spermatophyta
Class   : Liliopsida
Order   : Alismatales
Family : Hydrocharitaceae
Genus : Halophila
Species :Halophila minor
11.    Halophila decipiens
Memiliki daun yang berpasangan, helai-helai daunnya berbulu, tembus cahaya dan tipis mencolok, pada bagian tengah daun terdapat enam sampai Sembilan pasang tulang yang menyilang, tepi daun bergerigi, rhizomanya berbulu dan sering tampak kotor karena sedimen yang menempel(Den Hartog 1970; Phillips & Menez 1988).
Gambar 11.Halophila decipiens(Ostenfeld)
Klasifikasi :

Kingdom: Plantae
Division    : Spermatophyta
Class        : Liliopsida
Order       : Alismatales
Family      : Hydrocharitaceae
Genus      : Halophila
Species:Halophila decipiens

12.    Thalassodendrom ciliatum
Ujungdaun membulat seperti gigi, tulang daun lebih dari tiga, rhizomanya sangat keras dan berkayu, daun-daunnya berbentuk sabit dimana agak menyempit pada bagian pangkalnya (Den Hartog 1970; Phillips & Menez 1988).
Gambar 12:Thalassodendrom ciliatum(Forsskal) den Hartog


Klasifikasi :

Kingdom: Plantae 
Divisi        : Spermatophyta
Class   : Liliopsida
Order   : Alismatales
Family : Cymodoceaceae 
Genus : Thalassodendron
Spesies :Thalassodendron ciliatum
C.     Asosiasi Makrozoobenthos di Padang Lamun
Padang lamun memiliki keanekaragaman spesies yang cukup tinggi. Salah satu kelompok organisme yang banyak ditemukan di padang lamun adalah kerang–kerangan. Salah satunya dari golongan mollusca seperti Bivalvia dan gastropoda (Nontji, 2002).
Bivalvia memiliki sepasang cangkang. Nama lainnya adalah Lamellibranchia, Pelecypoda, atau Bivalvia (Franc, 1960).
Habitat Bivalvia yaitu pada perairan yang tenang dan subur, keadaan substrat yang halus (pasir berlumpur), arus yang relatif lemah, suhu, cahaya dan oksigen terlarut yang memadai (Hines, 1978).
Besarnya kelimpahan organisme Bivalvia di padang lamun ada keterkaitannya dengan produktivitas primer di padang lamun. Perairan Barrang Lompo memiliki kelimpahan lamun yang cukup sehingga gastropoda dan Bivalvia ditemukan di tempat ini (Rupper dan Barnes, 1994).


III. METODOLOGI PRAKTIK
A.     Waktu dan Tempat
Praktik lapang dilaksanakan pada tanggal 10 november 2012. Bertempat di Pulau Barrang Lompo, Kel. Barrang Lompo, Kec. Ujung Tanah, Kota Makassar.
Sedangkan pada analisis dan perhitungan data dilaksanakan di Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin.

B.     Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah Botol sampel, alat tersebut digunakan untuk menyimpan sampel makrozoobenthos, alat tulis menulis berfungsi untuk menulis data, spidol permanen berfungsi untuk menulis nama atau species pada botol, sabak berfungsi untuk menulis data di bawah air, ayakan berfungsi sebagai alat penyaring makrozoobenthos, skop yang berfungsi mengambil mengambil makrozoobentgos yang berada di dalam pasir, dan transek berfungsi untuk mengetahui jumlah kepadatan lamun.
Bahan yang digunakan adalah alkohol yang berfungsi untuk mengawetkan organisme yang telah di dapatkan agar tidak rusak dan membusuk.

C.     Presedur Kerja
Meletakkan transek sesuai lokasi yang telah ditentukan, mengamati jenis lamun dan semua biota yang hidup untuk identifikasi jenisnya, mengambil sedimen sedalam 10 cm, sebanyak tiga kali ulangan, sampel biota yang didapat kemudian dibersihkan, disortir, dan dimasukkan ke dalam botol sampel berlabel, kemudian menjelaskan peran dan fungsi masing-masing biota di ekosistem lamun.


D.     Analisis data
Rumus yang digunakan dalam perhitungan kerapatan dan penutupan lamun adalah ;
1.      Menghitung kerapatan
D = Ni/A
 


Keterangan ;
D : Kerapatan ( ind/400cm )
Ni : Kepadatan ( m )
A : Jumlah total kepadatan ( m )
Tabel skala kerapatan lamun Ambo Rappe ( 2009 ) dalam Musdalifha ( 2011 )
Skala
Kerapatan ( ind/m2 )
Kondisi
1
< 25
Sangat jarang
2
25 – 224
Jarang
3
225 – 424
Agak rapat
4
425 – 624
Rapat
5
< 625
Sangat rapat

2.   

C =(jumlah penutupan)/(jumlah kisi) x100%
Menghitung Penutupan


Keterangan :
C : Penutupan
3.     
D = Ni/A
 Menghitung Kerapatan Makrozoobenthos


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.       Hasil
a.        Kerapatan
Grafik 1. Tingkat  Kerapatan  Lamun pada Plot I
Grafik 2. Tingkat  Kerapatan  Lamun pada Plot II

Grafik 3. Tingkat  Kerapatan  Lamun pada Plot III
b.        Penutupan
Grafik 4. Tingkat Penutupan Lamun pada 3 Plot


c.  Kerapatan Makrozoobenthos
Gambar 5. Kerapatan Makrozoobenthos terhadap lamun


B.       Pembahasan
Pada Ulangan pertama terdapat 1 jenis lamun yang ditemukan yaitu Enhalus acoroides. Jenis lamun Enhalus acoroides banyak ditemukan pada transek ulangan pertama dengan jumlah presentase kerapatan pada ekosistem padang lamun di ulanganpertama yang cukup tinggi dikarenakan oleh kemampuan adaptasi jenis lamun Enhalus acoroides yang mampu bertahan terhadap hempasan ombak karena memiliki batang yang sangat besar dan kondisi lingkungan perairan yang sangat memungkinkan lamun untuk tumbuh dan berkembang. Dan ditemukan organisme makrozobenthos berupa cacing jenis annelida.
Adapun luas penutupanpadatransekulanganpertama terlihat pada jumlah kisi yang terisi pada transek.Jumlahkisi yang terisisebanyak 14,5 kisi yangtermasukdidalamnyaEnhalusacroides.
Berdasarkan grafik dan hasil pengamatan pada ulangan transek pertama maka dapat dikatakan bahwa kerapatan lamun pada transek ulangan pertama  adalah sangat jarang
Pada Ulangan kedua  terdapat 2 jenis lamun yang ditemukan yaitu Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichi. Jenis lamun yang paling banyak ditemukan pada transek  ulangan kedua adalah jenis lamun Thalassia hemprichii dengan presentasekerapatanpadaekosistempadanglamun di ulangan kedua paling tinggi yang kemungkinan disebabkan oleh kemampuan adaptasi jenis lamun Thalassia hemprichii yang mampu bertahan terhadap hempasan ombak karena memiliki batang yang sangat besar dan kondisi lingkungan perairan yang sangat memungkinkan lamun untuk tumbuh dan berkembang.
 Pada ulangan kedua terdapat 2 makrozoobentos  organisme jenis mollusca yakni Codakia punctata. Jenis makrozoobentos tersebut mampu bertahan hidup dan berkembang di daerah lamun karena disamping kemampuan lamun sebagai tempat perlindungannya, makrozoobentos tersebut juga adalah pemakan tumbuhan (herbivora) sehingga lamun disini berperan sebagai produsen primer bagi makrozoobentos tersebut. dan berhabitat di lingkungan tropis laut dangkal.
 Adapun luas penutupanpadatransekulanganpertama terlihat pada jumlah kisi yang terisi pada transek.Jumlahkisi yang terisisebanyak 19 kisi yangtermasukdidalamnyaEnhalusacroidesdan Thalassia hemprichii.
 Berdasarkan hasil pengamatan pada ulangan transek pertama dimana didapatkan sebanyak  18 tegakan pada transek maka dapat dikatakan bahwa kerapatan lamun pada transek ulangan pertama  adalah cukup padat .
Pada Ulangan ketiga  terdapat 3  jenis lamun yang ditemukan yaitu Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichi dan  Cymodocea rotundata. Jumlah jenis lamun yang ditemukan pada transek  ulangan ketiga adalah samadengan presentasekerapatanpadaekosistempadanglamun di ulanganpertama paling tinggi yang kemungkinan terjadi karena pada daerah ulangan ketiga kondisi lingkungannya dimana daerah tersebut tidak memungkinkan lamun untuk tumbuh dan berkembang dengan baik sehingga jumlah tegakan lamun yang di dapatkan pada transek ulangan III begitu sedikit.
 Pada ulangan ketiga terdapat 1 Jenis makrozoobentos yaitu cacing jenis  Sipuncula. makrozoobentos mampu hidup didaerah lamun karena lamun berperan sebagai daerah asuhan.Makrozobentos  yang ditemukan di ulangan III adalah pemakan tumbuhan (herbivora) sehingga lamun berperan sebagai produsen pirimer bagi makrozoobentos.
Adapun luas penutupan pada transek ulangan ketiga terlihat pada jumlah kisi yang terisi pada transek. Jumlah kisi yang terisisebanyak 19 kisi yangtermasukdidalamnyaEnhalusacroidesdan Thalassia hemprichii serta I Cymodocea rotundata.
 Berdasarkan hasil pengamatan pada ulangan transek pertama dimana didapatkan sebanyak 9 tegakan pada transek maka dapat dikatakan bahwa kerapatan lamun pada transek ulangan ketiga adalah sangat jarang .


V.    KESIMPULAN DAN SARAN
A.       Kesimpulan
Kerapatan dan penutupan ekosistem padang lamun mempengaruhi jumlah makrozoobentos yang hidup pada ekosistem padang lamun tersebut.

B.Saran
Saran untuk laboratorium sebaiknya dijaga kebersihannya serta kerapiannya. Saran untuk asisten agar lebih kerja sama dalam asistensi.
Lampiran 1
Kerapatan  Padang Lamun di Pulau Barrang Lompo
KISI
ULANGAN I
ULANGAN II
ULANGAN III
1.     
16 E
5 E
13 T

11 C
2.     
5 E
22 T
3 T
3.     
17 E
18 T
9 E
1 C

4.     
7E
9 T
4 E
5.     
13 E
25 T
9 T
JUMLAH
58
92
37
 Keterangan :
E : Enhalus accoroides
T : Thalassia hemprichii
C : Cymodocea rotundata
· Kepadatan Ulangan I
1.   Enhalus accoroides =   = 11.6
2.   Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata = 0
· Kepadatan Ulangan II
1.   Enhalus accoroides =  = 1
2.   Thalassia hemprichii =  = 17.4
3.   Cymodocea rotundata = 0
·  Kepadatan Ulangn III
1.   Enhalus accoroides =  = 2.6
2.   Thalassia hemprichii =  = 2.4
3.   Cymodocea rotundata =  = 2.4

Lampiran 2
Penutupan Padang Lamun di Pulau Barrang Lompo
ULANGAN I
ULANGAN II
ULANGAN III
14,5
19
12

· Ulangan I
C =  X 100  = 58 %
· Ulangan II
C =  X 100 % = 76 %
· Ulangan III
C =  X 100 % = 48 %

Lampiran 3
Kerapatan Makrozoobentos
No.
ULANGAN I
ULANGAN II
ULANGAN III
1
2 Bivalvia
1 Annelida
2 Annelida
2
1 Annelida
1 Crustacea

3

1 Gastropoda

JUMLAH
3
3
2

Kerapatan :
Plot 1   = 3 : ! = 3
Plot II   = 3 : 1 =3
Plot III  = 2 : 1 =2
Penutupan
Plot I    = 3 : 25 x 100 % = 12%
Plot II   = 3 : 25 x 100% = 12%
Plot III  = 2 : 25 x 100% = 8%


DAFTAR PUSTAKA
Hartog, C.den. 1970. Seagrass Of The World. North –Holland Publ.Co., Amsterdam Kikuchi dan J.M. Peres. 1997. C
Dahuri, R.J.Rais, S.P. Ginting dan M.J. Sitepu. Zool. Pengelolaan sumber daya wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu.Firsted.Pradnya Paramitha Jakarta.
Fairhurst, R.A. and K.A. Graham. 2003. Seagrass bed-sediment characteristics of Manly Lagoon. In: Freshwater Ecology Report 2003. Department of Environmental Sciences, University of Technology, Sydney.
Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut: suatu pendekatan ekologis. Alih bahasa H. Muh.Eidman dkk. Penerbit Gramedia. Jakarta.
Terrados, J. and C.M. Duarte. 2003. Southeast Asian Seagrass Ecosystem Under Stress: have we improved?









Selasa, 27 November 2012

MAKALAH KERAGAMAN DAN ADPATASI BIOTA INTERTIDAL


I.             PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Zona intertidal adalah zona littoral yang secara reguler terkena pasang surut air laut, tingginya adalah dari pasang tertinggi hingga pasang terendah.  Didalam wilayah intertidal terbentuk banyak tebing-tebing, cerukan, dan gua, yang merupakan habitat yang sangat mengakomodasi organisme sedimenter.  Morfologi di zona intertidal ini mencakup tebing berbatu, pantai pasir, dan tanah basah / wetlands.
Keragaman faktor lingkungannya dapat dilihat dari perbedaan (gradient) dari faktor lingkungan secara fisik mempengaruhi terbentuknya tipe atau karakteristik komunitas biota serta habitatnya. Sejumlah besar gradien ekologi dapat terlihat pada wilayah intertidal yang dapat berupa daerah pantai berpasir, berbatu maupun estuari dengan substrat berlumpur. Perbedaan pada seluruh tipe pantai ini dapat dipahami melalui parameter fisika dan biologi lingkungan yang dipusatkan pada perubahan utamanya serta hubungan antara komponen biotik (parameter fisika-kimia lingkungan) dan komponen abiotik (seluruh komponen makhluk atau organisme) yang berasosiasi di dalamnya. Dari keregaman factor tersebut maka dibutuhkan suatu adaptasi khusus yang harus dimiliki oleh biota yang berada pada daerah intertidal untuk dapat terus bertahan dalam kondisi lingkungan yang cukup ekstrim dimana beberapa parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, kadar oksigen, dan habitat dapat berubah secara signifikan.
Dalam bidang ekologi, adaptasi berarti suatu proses evolusi yang menyebabkan organisme mampu hidup lebih baik dibawah kondisi lingkungan tertentu dan sifat genetik yang membuat organisme menjadi lebih mampu untuk bertahan hidup.
Organisme yang terdapat pada zona intertidal ini telah beradaptasi terhadap lingkungan yang ekstrim. Pasokan air secara reguler tercukupi dari pasang-surut air laut, namun air yang didapat bervariasi dari air salin dari laut, air tawar dari hujan, hingga garam kering yang tertinggal dari inundasi pasang surut, membuat biota yang berada di zona ini harus beradaptasi dengan kondisi salinitas yang variatif. Suhu di zona intertidal bervariasi, dari suhu yang panas menyengat saat wilayah terekspos sinar matahari langsung, hingga suhu yang amat rendah saat iklim dingin. Zona intertidal memiliki kekayaan nutrien yang tinggi dari laut yang dibawa oleh ombak.



II.           PEMBAHASAN
A.   Pengertian Kawasan Intertidal

Menurut Nybakken (1988) menyatakan bahwa zona intertidal (pasang-surut) merupakan daerah terkecil dari semua daerah yang terdapat di samudera dunia. Merupakan pinggiran yang sempit sekali hanya beberapa meter luasnya. Terletak di antara air tinggi dan air rendah. Zona ini merupakan bagian laut yang mungkin paling banyak dikenal dan dipelajari karena sangat mudah dicapai manusia. Hanya di daerah inilah penelitian terhadap organisme perairan dapat dilaksanakan secara langsung selama periode air surut, tanpa memerlukan peralatan khusus. Zona intertidal telah diamati dan dimanfaatkan oleh manusia sejak prasejarah.
Menurut Nybakken, 1988. Susunan faktor-faktor lingkungan dan kisaran yang dijumpai dizona intertidal sebagian disebabkan zona ini berada diudara terbuka selama waktu tertentu dalam setahun, dan kebanyakan faktor fisiknya menunjukkan kisaran yang lebih besar di udara daripada di air. Selain itu, faktor-faktor lain adalah adanya substrat yang berbeda-beda yaitu pasir, batu dan lumpur menyebabkan perbedaan fauna dan struktur komunitas didaerah intertidal sama seperti lingkungan air tawar. Serangga menjadi hal umum dicruger island. Serangga yang terdapat adalah epheraroptera, trichoptera, coleoptera dan diptera.
Menurut Prajitno, 2009. Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi lingkungan zona intertidal diantaranya adalah :
Ø  Pasang-surut yaitu naik turunnya permukaan air laut secara periodik selam interval waktu tertentu. Pasang-surut merupakan faktor lingkungan paling penting yang mempengaruhi kehidupan di zona intertidal. Tanpa adanya pasang-surut secara periodik zona ini tidak berarti dan faktor lain akan kehilangan pengaruhnya. Penyebab terjadinya pasang surut dan kisaran berbeda sangat kompleks dan berhubungan degan interaksi tenaga penggerak pasang surut, matahari, bulan, rotasi bumi dan geomorfologi samudra.
Ø  Suhu mempengaruhi zona intertidal selama harian/ musiman. Kisaran ini dapat melebihi batas toleransi.
Ø  Perubahan salinitas yang dapat mempengaruhi organisme terjadi di zona intertidal melalui dua cara. Pertama, karena zona intertidal terbuka pada saat pasang urun kemudian digenangi air atau aliran air akibat ujan lebat, salinitas yang turun. Kedua, ada hubungannya dengan genangan pasang surut, yaitu daerah yang menampung air laut ketika pasang turun.
Ø  Gelombang merupakan parameter utama dalam proses erosi atau sedimentasi besarnya erosi tergantung pada besarnya energi dihempaskan oleh gelombang. Gelombang/ ombak dibagi 2 macam yaitu ombak terjun dan ombak landai
Ø  Ombak terjun biasanya terlihat dipantai yang lautnya terjal. Ombak ini mengulung tinggi. Kemudian jatuh dengan bunyi yang keras dan bergemuruh.
Ø  Ombak landai terbentuk di pantai yang dasar lautnya di landai. Sehingga bergulung ke pantai agak jauh sebelum pecah.





B.     Ekologi Daerah Intertidal (pasang-surut)

 Susunan faktor-faktor lingkungan dan kisaran yang dijumpai di zona intertidal sebagian disebabkan zona ini berada di udara terbuka selama waktu tertentu dalam setahun. Kebanyakan factor menunjukkan kisaran yang lebih besar di udara daripada di air.
Secara umum daerah intertidal sangat dipengaruhi oleh pola pasang dan surutnya air laut, sehingga dapat dibagi menjadi tiga zona. Zona pertama merupakan daerah diatas pasang tertinggi dari garis laut yang hanya mendapatkan siraman air laut dari hempasan riak gelombang dan ombak yang menerpa daerah tersebut backshore (supratidal), zona kedua merupakan batas antara surut terendah dan pasang tertinggi dari garis permukaan laut (intertidal) dan zona ketiga adalah batas bawah dari surut terendah garis permukaan laut (subtidal).
Sebagai akibat adanya perubahan kondisi pasang dan kondisi surut airlaut dan akibat aktifitas ombak pantai, menyebabkan kondisi fisik pantai akan selalu berubah baik secara temporal maupun secara spasial. Perubahan secaratemporal membuat kondisi fisik pantai akan berbeda dalam rentang waktu jam, hari, bulan maupun tahun. Perubahan secara spasialmembuat kondisi fisik dapat berubah-ubahpada berbagai tempat sekalipun jaraknya cukup berdekatan.




C.   Biota pada zona intertidal

 Menurut Prajitno, 2009. Biota pada ekosistem pantai berbatu adalah salah satu daerah ekologi yang paling familiar, habitat dan interaksinya sudah diketahui oleh ilmuan, penelitian diadakan di pulau cruger yang pantai utaranya merupakan (freshwater) air tawar dan berbatu. Fauna pada pantai berbatu pulau cruger berkarakteristik dominan pada binatang air tawar. Sebagian besar berupa Dipterans, Nematodes, Microannelida, Gastropoda,Bivalves dan Flatworms secara keseluruhan, macroinvertebrate yang ada di pantai ini berasal dari golongan Tubellaria, Nematoda, Oligochaeta, Gastropoda, Dreissna, Acari, Amphipoda, Ephemeroptera, Trichoptera, coteoptera, Ceratopogonidae, Chironomidae. Sama seperti lingkungan air tawar, serangga menjadi hal umum dicruger Island. Serangga yang terdapat adalah Epheraroptera, Trichoptera, coleoptera dan diptera.
 Menurut Nybakken, 1988. Dilingkungan laut khususnya diintertidal. Spesies yang berumur panjang cenderung terdiri dari berbagai hewan inverbrata.hewan-hewan intertidal dominan yang menguasai ruang selain Mytilus californianus yang terdapat dalam jumlah banyak di pesisir pasifik adalah teritip Balanus Cariogus dan Balanus glandula. Dua spesies tersebut terdapat melimpah di wilayah intertidal walaupun kenyataannya mereka bersaing dengan M.californianus hal ini menyebabkan pertumbuhan teritip dapat berlangsung dengan baik. Pisaster Ochraceus merupakan predator kerang yang rakus sehingga secara efektif mencegah kerang menempati seluruh ruang.
Pantai yang terdiri dari batu-batuan (rocky shore) merupakan tempat yang sangat baik nagi hewan-hewan atau tumbuhan-tumbuhan yang dapat menempelkan diri pada lapisan ini. Golongan ini termasuk banyak jenis gastropoda, moluska dan tumbuh-tumbuhan yang berukuran besar. Dua spesies Uttorina undulata dan tectarius malaccensis, tinggal dan hidup di bagian batas atas dari pantai di bawahnya berturut-turut ditempati oleh jenis spesies lain monodonta labio dan Nerita undata. Kemudian oleh cerithium morus dan turbo intercostalis. Akhirnya pada batas yang paling bawah terdapat lambis-lambis dan trochus gibberula (Hutabarat, 2008).

D.   Pola adaptasi organism intertidal
Bentuk adaptasi adalah mencakup adaptasi structural, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku. Adaptasi structural merupakan cara hdup untuk menyesuaikan dirinya dengan mengembangkan struktur tubuh atau alat-alat tubuh kearah yang lebh sesuai dengan keadaan lingkungan dan keperluan hidup.
Adaptasi fisiologi adalah cara makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara penyesaian proses-proses fisiologis dalam tubuhnya. Adaptasi tingkah laku adalah respon-respon hewan terhadap kondisi lingkungan dalam bentuk perubahan tingkah laku. (www.zonabawah.co.cc) 
Organisme intertidal memilki kemampuan untuk beradaptasi dngan kondisi lingkungan yang dapat berubah secara signifikan, pola tersebut meliputi,
a). Daya Tahan terhadap Kehilangan air
Organisme laut berpindah dari air ke udara terbuka, mereka mulai kehilangan air.Mekanisme yang sederhana untuk menghindari kehilangan air terlihat pada hewan-hewan yang bergerak seperti kepiting dan anemon.
b). Pemeliharaan Keseimbangan Panas
Organisme intertidal juga mengalami keterbukaan terhadap suhu panas dan dingin yang ekstrim dan memperlihatkan adaptasi tingkah laku dan struktur tubuh untuk menjaga keseimbangan panas internal.
c). ­Tekanan mekanik
Gerakan ombakmempunyai pengaruh yang berbeda, pada pantai berbatu dan pada pantai  berpasir. Untukmempertahankan posisi menghadapi gerakan ombak, organism intertidal telah membentuk beberapa adaptasi.
d). Pernapasan
Diantara hewan intertidal terdapat kecenderungan organ pernapasan yang mempunyai tonjolan kedalam rongga perlindungan untuk mencegah kekeringan. Hal ini dapat terlihat jelas pada berbagai moluska dimana insang terdapat pada rongga mantel yang dilindungi cangkang.
e). Cara Makan
Pada waktu makan, seluruh hewan intertidal harus mengeluarkan bagian-bagian berdaging dari tubuhnya. Karena ituseluruh hewan intertidal hanya aktif jika pasang naik dan tubuhnyaterendam air. Hal ini berlaku bagi seluruh hewan baik pemakan tumbuhan, pemakan bahan-bahan tersaring, pemakan detritus maupun predator.
f ) Tekanan Salinitas
Zona intertidal juga mendapat limpahan air tawar yang dapat menimbulkan masalah tekanan osmotik bagi organisme intertidal yang hanya dapat menyesuaikan diri denagn air laut. Kebanyakan tidak mempunyai mekanisme untuk mengontrol kadar garam cairantubuhnya dan disebutosmokonformer. Adaptasi satu-satunya samadengan adaptasi untuk melindungi dari kekeringan
g) Reproduksi
Kebanyakan organisme intertidal hidup menetap atau bahkanmelekat, sehingga dalam penyebarannya mereka mmenghasilkan telur atau larva yang terapung bebas sebagai plankton. Hampir semua organisme mempunyai daur perkembangbiakan yang seirama dengan munculnya arus  pasang surut tertentu, seperti misalnya pada waktu pasang purnama.



Seperti telah dijelaskan diatas bahwa daerah intertidal merupakan daerah yang memiliki variasi pasang-surut yang regular, dimna di daerah tersebut pada suatu waktu terendam oleh air laut dan pada awaktu yang lain akan surut dan terpapar ke udara bebas. Hal ini menjadikan daerah tersebut memiliki salinitas dan suhu yang cukup bervariasi, dan juga perubahan habitat saat terendam dan saat surut, sehingga dibutuhkan suatu strategi adaptasi untuk dapat terus bertahan hidup. Adaptasi yang dilakukan oleh kerang di daerah mangrove seperti Polymesoda erosa, P.coaxans dan jenis lainnya biasanya meliputi adaptasi morfologi, fisilogi, dan tingkah laku. Sebagai contoh, Polymesoda coaxans seperti halnya hewan dari kelas Bivalvea lainnya mempunyai kemampuan hidup di daerah intertidal karena memiliki kemampuan untuk mencegah kehilangan air. Kerang akan menutup rapat cangkangnya yang kedap air, sehingga air tidak keluar dari tubuhnya Muslih (2008). Kerang ini juga mempunyai kemampuan untuk membenamkan diri ke dalam substrat sebagai upaya mengindarkan diri dari predator dan untuk mencari tempat yang lebih lembab.
Nybakken et al (1988) menyatakan bahwa beberapa jenis kerang, seperti Donax sp. dan Mytilus edulis, mempunyai kemampuan hidup di daerah intertidal karena mempunyai kemampuan untuk mencegah kehilangan air dengan cara membenamkan diri. Pada P. coaxans korelasi ini terdapat pada ukuran lebar dan tebal cangkang dengan habitat hidupnya. P. coaxans yang hidup pada tempat terbuka memiliki ukuran lebar dan tebal cangkang yang lebih besar dibandingkan dengan P. coaxans yang hidup pada tempat tertutup, dari hal tersebut dapat diasumsikan semakin besar dan tebal ukuran cangkang maka kemungkinan untuk dimangsa predatornya rendah.

A.     Adaptasi terhadap suhu
Temperatur perairan merupakan salah satu faktor abiotik yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan dan pertumbuhan, sebab temperatur berperan langsung dalam aktivitas dan proses metabolisme bivalvia (Manzi dan Castagna, 1989; Bayne, 1976). Ironisnya temperatur berbanding terbalik dengan kelarutan oksigen dalam air, padahal meningkatnya temperatur akan meningkatkan aktivitas metabolisme dan konsekuensinya akan meningkatkan kebutuhan oksigen. Proses  perubahan temperatur juga berpengaruh terhadap proses fisika dan kimia badan air. Temperatur juga sangat berperan dalam mengendalikan kondisi ekosistem perairan.
Menurut Suprapto (2011) reaksi dari perubahan tingkat metabolisme bivalvia ini menyebabkan respirasi meningkat dan energi yang dikeluarkan turut meningkat. Bivalvia akan meningkatkan filtrasi atau konsumsi makannya untuk mengimbangi energi yang hilang dan untuk mengantisipasi keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan dari perubahan temperatur yang ekstrim. Jadi angka kecepatan filtrasi ikut dipengaruhi pula oleh kondisi temperatur lingkungannya. Dalam hal ini dapat diasumsikan bahwa temperatur dalam batasan normal tidak akan banyak memberikan pengaruh terhadap laju filtrasi. Pada temperatur rendah, misalnya 5ºC bivalvia memiliki laju filtrasi 1,64 l/jam, sementara pada temperatur tinggi (28ºC) laju filtrasinya sebesar 5,82 l/jam. Pada akhirnya peningkatan temperatur menyebabakan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi organisme air yang selanjutnya akan mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen

B.    Adaptasi saat kekurangan oksigen keadaan anaerobiosis
Anaerobiosis sering terjadi saat suasana pasang surut yang akan mengakibatkan naik turunnya permukaan laut. Pada waktu surut, kelompok bivalvia tertentu akan terekspos ke udara terbuka dan harus menyesuaikan diri karena tidak adanya makanan maupun oksigen. Menurut Suprapto (2011) jika dalam kondisi ini maka memaksa bivalvia menyediakan energinya dengan mengoksidasi secara enzimatis persediaan makanan yang berupa jaringan tubuhnya. Proses perombakan jaringan akan diawali dengan membakar karbohidrat, lemak, dan diakhiri dengan protein.
Dengan demikian, bivalvia masih bisa bertahan hidup untuk jangka waktu tertentu dan apabila bivalvia telah mengoksidasi protein, maka periode ini sudah tahapan yang berbahaya, karena dapat menyebabkan mortalitas.
Kondisi anaerobiosis dapat juga terangsang oleh adanya fluktuasi ekstrim temperatur, salinitas, serta ketersediaan oksigen. Pada kerang Polymesoda cozxans dan bivalvia lainnya aktifts yang akan dilakukan adalah dengan menutup cangkang agar tidak terjadi dehidrasi. Hal ini setara dengan pernyataan Suprapto (2011)  dimana pada  kondisi ini kedua cangkangnya akan menutup rapat-rapat sehingga metabolisme didalam menyediakan energi dilaksanakan dengan kondisi anaerob, karena insang (branchie) tidak berfungsi sehingga oksigen tidak dapat masuk ke dalam tubuh.
Dalam suasana anaerobiosis, tingkat metabolisme akan menurun drastis. Demikian juga tingkat proses penyediaan energi, seperti pencernaan, penyerapan makanan, aktivitas otot, serta pertumbuhan. Dengan kondisi ini dapat pula terjadi suatu proses yang disebut konservasi energi.
Menurut Bayne et al. (1976) untuk perubahan temperatur yang sangat ekstrim, menyebabkan terjadinya metabolisme anaerobik secara cepat.



III.         PENUTUP
A.   Kesimpulan
Zona intertidal yang dekat dengan berbagai macam aktifitas manusia, dan mmeiliki lingkungan dengan dinamika yang tinggi menjadikan kawasan ini sangat rentan terhadap gangguan. Kondisi ini tentu saja akan berpengaruh terhadap segenap kehidupan di dalamnya.  Pengaruh tersebut salah satunya dapat berupa cara beradaptasi. Adaptasi ini diperlukan untuk mempertahankan hidup pada lingkungan di zona intertidal. Keberhasilan beradaptasi akan menentukan keberlangsungan organisme di zona intertidal.
Bentuk adaptasi adalah mncakup adaptasi structural, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku. Adaptasi structural merupakan cara hdup untuk menyesuaikan dirinya dengan mengembangkan struktur tubuh atau alat-alat tubuh kearah yang lebh sesuai dengan keadaan lingkungan dan keperluan hidup.
Adaptasi fisiologi adalah cara makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara penyesaian proses-proses fisiologis dalam tubuhnya. Adaptasi tingkah laku adalah respon-respon hewan terhadap kondisi lingkungan dalam bentuk perubahan tingkah laku.
Pada kerang Polymesoda coaxans pada umumnya beradaptasi pada lingkungan intertidal dengan cara menutup rapat-rapat cangkang agar terhindar dari dehidrasi, menampung sejumlah air dalam cangkangnya yang besar sebagai persediaan hidup, saat seperti itu kerang tersebut melakukan adapatsi fisiologi dengan reaksi enzimatis, dan pernafasan anaerob, serta mengkonversi bagian dalam tubuhnya untuk bahan metabolisme.




DAFTAR PUSTAKA
Bayne, B.L., Thompson, R.J. and Widdows, J. 1976b. Physiology: I. In: Marine Mussels: Their Ecology and Physiology (ed. B.L. Bayne), pp. 121-206. Cambridge University Press, Cambridge.

Hartati, R.I Widowato, dan Y. Ristiadi. 2005. Histologi Gonad Kerang Totok (Polymesoda erosa) dari Laguna Segara Anakan Cilacap. Ilmu Kelautan, Vol. 10 (3): 119-125

Hutabarat,s dan Steward,M.E.2008.Pengantar oseanografi.Universistas Indonesia.Jakarta.

Jueg, U. & Zettler, M.L. (2004). Die Mollusca en fauna der Elbe in Mecklenburg-Vorpommern mit Erstnachweis der Grobgerippten Körbchenmuschel Corbicula fluminea (O. F. Müller 1756). Mitteilungen der NGM 4(1):85-89.

Muslih. 2006. Biologi Kerang Totok (Donax sp.). Jurusan Perikanan dan Kelautan FST Unsoed.


Nybakken,J.W.1988.Biologi Laut . Pt Gramedia . Jakarta.

Prajitno.A.2009.Biologi Laut.Universitas Brawijaya.Malang.

Sahirman, 1997. Keragaman dan Distribusi Mollusca di Kawasan Hutan Mangrove Nusa Karang Kobar

Segara Anakan Kbupaten Cilacap, Skripsi. Fakultas Biologi UNSOED, Purwokerto.

Suprapto,Joko. 2011. Ekofsisiologi Bivalvia, Ekologi  dan Konsumsi Oksigen. Undip Press, UniversitasDiponegoro, Semarang.